SiPenc | Sistem Pencernaan

Pertemuan 4

GANGGUAN PADA SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

Pada pertemuan sebelumnya kita telah belajar tentang Sistem Pencernaan Manusia. Coba sebutkan apa saja organ penyusun sistem pencernaan manusia?

Tahukah kalian saluran dan kelenjar pencernaan pada manusia dapat mengalami gangguan atau kelainan? Coba sebutkan gangguan atau kelainan yang dapat terjadi pada sistem pencernaan yang kalian ketahui!

Apabila materi pada pertemuan ini dapat dipelajari dengan baik dan sungguh-sungguh, maka peserta didik/siswa diharapkan dapat mengaitkan beberapa permasalahan atau gangguan pada sistem pencernaan dengan konsep yang sudah dipelajarinya, serta dapat menerapkan cara menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Melalui kegiatan pembelajaran menggunakan model Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dan pendekatan saintifik, tujuan pembelajaran pada pertemuan ini adalah peserta didik/siswa diharapkan dapat:

  1. Mengaitkan beberapa permasalahan tentang sistem pencernaan makanan dengan konsep yang sudah dipelajari
  2. Menguraikan cara menjaga kesehatan diri dengan prinsip-prinsip dalam perolehan nutrisi dan energi melalui makanan
  3. Menguraikan cara menjaga kesehatan diri dengan prinsip-prinsip kerja sistem pencernaan
  4. Mengumpulkan dan menganalisis data dan informasi kelainan-kelainan yang mungkin terjadi pada sistem pencernaan manusia dari berbagai sumber dan melaporkan dalam bentuk tertulis

Pada pertemuan ini akan membahas materi gangguan atau kelainan pada sistem pencernaan manusia dan teknologi yang berhubungan dengan gangguan pada sistem pencernaan manusia. Kompetensi dasar, indikator, dan KKM dalam pembelajaran ini dapat dilihat pada menu KI & KD.

Kegiatan pembelajaran pada pertemuan ini menggunakan model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Langkah-langkah pembelajaran dapat dilihat pada menu Langkah-Langkah Model Kooperatif Tipe STAD.

Perhatikan dan amatilah video di bawah ini!

Video 3.1 Krisis gizi buruk di Asmat
(Sumber: BBC News Indonesia)

Sebelum melanjutkan pembelajaran, jawablah pertanyaan berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan gizi buruk?
2. Apa yang menyebabkan terjadinya gizi buruk?
3. Bagaimana cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari gizi buruk?

Pada pertemuan ini akan membahas materi gangguan pada sistem pencernaan manusia. Sistem pencernaan dapat mengalami gangguan atau kelainan. Gangguan sistem pencernaan adalah masalah yang terjadi pada saluran, kelenjar, atau organ yang terlibat dalam pencernaan.  Gangguan sistem pencernaan dapat disebabkan oleh bakteri yang terdapat di dalam makanan, infeksi, stres, dan obat-obatan tertentu. Secara umum gangguan pada sistem pencernaan dapat terjadi karena tiga hal, yaitu: kelainan pada organ sistem pencernaan, infeksi kuman (virus, jamur, parasit, dan bakteri), dan mengonsumsi makanan dengan efek tertentu seperti obat-obatan. 

Siswa bergabung ke dalam kelompok belajar sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan oleh guru (kelompok tetap sama dengan pertemuan sebelumnya).

Setiap kelompok memperoleh lembar untuk menjawab LTPD (Lembar Tugas Peserta Didik). LTPD dapat dilihat pada Kegiatan 3.1

Pada pertemuan ini akan dibahas beberapa gangguan atau kelainan yang dapat terjadi pada sistem pencernaan manusia dan teknologi yang digunakan dalam membantu mengatasi gangguan pada sistem pencernaan manusia, lebih lanjut akan diuraikan sebagai berikut: 

A. Gangguan pada Sistem Pencernaan Manusia

Beberapa gangguan yang dapat menyerang sistem pencernaan manusia antara lain:

1. Gastritis atau Maag

Gambar 3.1 Gastritis atau maag (Sumber: alodokter.com)

Gambar 3.2 Gastritis (Sumber: biodigital.com dan alodokter.com)

Gastritis atau biasa disebut maag merupakan peradangan atau pembengkakan yang terjadi pada lapisan dinding lambung.

Gangguan ini dapat diakibatkan oleh sistem perlindungan mukosa lambung yang tidak mampu melindungi lambung akibat paparan berbagai zat secara terus-menerus atau akibat bakteri yang merugikan. Helicobacter pylori, merupakan bakteri penyebab terjadinya gastritis atau maag pada manusia. Penyebab lainnya dapat berupa: infeksi, pola makan tidak teratur, konsumsi rutin pil pereda nyeri yang disebut sebagai NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs), dan terlalu banyak mengonsumsi alkohol.

Gejala gastritis dapat berupa nyeri perut bagian atas, mual, dan muntah. Namun, terkadang tidak menimbulkan gejala.

Penanganannya tergantung pada penyebabnya, pemberian antibiotik dan antasida biasanya dapat membantu pemulihan.

2. Ulkus peptikum atau Tukak Lambung

Ulkus peptikum atau lebih sering dikenal dengan tukak lambung merupakan peradangan yang telah merusak lambung, dan menyebabkan luka atau hilangnya sebagian dinding lambung. Hal tersebut menyebabkan perdarahan yang dapat membahayakan nyawa. 

Tukak lambung terjadi karena kerusakan mukosa lambung yang menyebabkan terjadinya luka dan peradangan lokal. Disebut tukak jika robekan tersebut telah membuat robekan berdiameter ≥ 5 mm mulai dari submukosa hingga otot mukosa dinding lambung.

Gambar 3.3 Ulkus peptikum
(Sumber: aido.id)

Gambar 3.4 Ulkus peptikum atau tukak lambung (Sumber: biodigital.com dan alodokter.com)

Hal yang membuat seseorang mengalami tukak lambung sama dengan gastritis. Hanya saja tukak lambung merupakan proses lebih lanjut dari gastritis yang bersifat kronis (lama) dan tidak mendapatkan perawatan dengan benar.

Gejala tukak lambung berupa nyeri seperti terbakar pada ulu hati, mual, muntah, perut kembung, penurunan berat badan, muntah darah, feses berwarna hitam, dan anemia akibat perdarahan pada dinding lambung. 

Pengobatan tukak lambung sama dengan pengobatan gastritis. Hanya saja, pada kasus yang berat, penderita tukak lambung harus menjalani operasi vagotomy. Vagotomy adalah pembedahan untuk memotong satu atau lebih cabang saraf vagus pada lambung yang mengirimkan pesan dari otak ke perut. Operasi ini bertujuan mengurangi sekresi lambung agar tidak semakin memperparah luka.

3. Gastroesophageal reflux disease (GERD) atau Asam Lambung

GERD atau asam lambung adalah munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus). Kondisi ini berisiko terjadi pada orang lanjut usia (lansia), penderita obesitas, dan ibu hamil.

Penyakit asam lambung terjadi ketika otot kerongkongan bagian bawah (LES atau lower esophageal sphincter) melemah. Otot ini seharusnya berkontraksi dan menutup saluran ke kerongkongan setelah makanan turun ke lambung. Bila otot ini lemah, kerongkongan akan tetap terbuka dan asam lambung akan naik kembali ke kerongkongan. 

Gambar 3.5 Kondisi lambung saat normal dan saat mengalami GERD (Sumber: alodokter.com)

Gambar 3.6 Penyakit asam lambung atau GERD (Sumber: biodigital.com dan alodokter.com)

Gejala utamanya adalah rasa seperti terbakar di dada (heartburn), yang bisa memburuk setelah makan atau saat berbaring. Gejala ini dapat disertai dengan keluhan gangguan pencernaan lainnya, seperti: sering bersendawa, mual dan muntah, maag dan sesak napas, serta mulut terasa asam.

Pengobatan asam lambung dapat diatasi dengan mengubah perilaku sehari-hari, seperti: menerapkan jadwal makan yang teratur,  menurunkan berat badan, tidak langsung berbaring setelah makan, menjauhi makanan tertentu, termasuk buah yang asam, dan berhenti merokok. Dokter juga dapat memberikan obat-obatan atau melakukan tindakan operasi apabila diperlukan. 

4. Apendisitis atau Radang Usus Buntu

Apendisitis atau radang usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada Apendiks vermiformis (umbai cacing/usus buntu).

Penyakit usus buntu terjadi karena infeksi di rongga usus buntu sehingga membuat bakteri berkembang dengan cepat dan dapat membuat usus buntu meradang, bengkak, serta bernanah.

Gambar 3.7 Radang usus buntu
(Sumber: alodokter.com)

Gambar 3.8 Radang usus buntu
(Sumber: biodigital.com dan alodokter.com)

Beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan seseorang mengalami apendisitis antara lain:

1) Hambatan di pintu rongga usus buntu akibat penumpukan feses yang mengeras
2) Penebalan atau pembengkakan jaringan dinding usus buntu karena infeksi di saluran pencernaan atau bagian tubuh lainnya
3) Penyumbatan rongga usus buntu akibat pertumbuhan parasit di pencernaan, misalnya infeksi cacing kremi atau ascariasis
4) Kondisi medis tertentu, seperti tumor pada perut atau inflammatory bowel disease

Gejala yang sering terjadi biasanya diawali dengan nyeri di dekat pusar, kemudian menjalar ke sisi kanan. Kondisi ini sering disertai mual, muntah, nafsu makan rendah, demam, menggigil, tidak bisa buang gas atau kentut, sembelit, dan diare.

Penanganan dan pengobatan apendisitis (radang usus buntu) biasanya dengan pemberian obat-obatan, operasi laparoskopi (operasi lubang kunci, yaitu dengan membuat beberapa sayatan sebesar lubang kunci di perut, dan dokter akan memasukkan alat bedah khusus untuk mengangkat usus buntu), dan operasi laparotomi (operasi bedah terbuka, yaitu dengan membedah perut bagian kanan bawah sepanjang 5–10 cm, dan mengangkat usus buntu). Jika tidak diobati, usus buntu dapat pecah dan menyebabkan abses atau infeksi sistemik (sepsis).

5. Stomatitis atau Sariawan

Stomatitis atau sariawan merupakan luka atau peradangan pada lapisan mukosa, ditandai dengan adanya bercak luka berwarna putih dan dapat terjadi pada dinding mulut, bibir, dan lidah.

Gambar 3.9 Sariawan pada bibir
(Sumber: gooddoctor.co.id)

Sariawan dapat disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari beberapa kondisi berikut:

1) Cedera, misalnya karena tergigit atau salah dalam menyikat gigi
2) Infeksi jamur, virus, atau bakteri di mulut
3) Penyakit autoimun, seperti lupus
4) Kondisi tertentu, seperti perubahan hormon, kekurangan nutrisi, kekurangan vitamin, stres, kebiasaan merokok, dan faktor keturunan

Gejala utama sariawan adalah terdapat luka yang dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman, serta dapat menggangu dan menyulitkan untuk makan, minum dan berbicara.

Kebanyakan sariawan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu sampai dua minggu. Jika pengobatan diperlukan, dapat meliputi: larutan kumur, salep, dan obat-obatan.

6. Parotitis epidemika atau Gondong

Parotitis epidemika merupakan suatu penyakit infeksi akut serta menular yang disebabkan Paramyxovirus. 

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang kelenjar air liur yang terdapat di mulut, dan terutama menyerang kelenjar parotis, kelenjar ludah di bawah dan di depan telinga. Penyakit ini dapat ditularkan melalui air liur saat bersin maupun saat batuk, atau karena bersentuhan dengan benda yang telah terkontaminasi air liur penderita.

Gambar 3.10 Parotitis epidemika
(Sumber: emergency-live.com)

Gejalanya berupa bengkak, nyeri pada kelenjar ludah, demam, sakit kepala, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan. Namun pada beberapa orang tidak mengalami gejala. 

Pengobatan yang dilakukan berfokus untuk meringankan gejala, dan pemulihannya membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin MMR (Measles Mumps Rubela: vaksin yang digunakan untuk melindungi tubuh dari tiga jenis penyakit, yaitu campak (measles), gondongan (mumps), dan rubella). 

7. Malnutrisi atau Malagizi

Malnutrisi adalah gangguan kesehatan gizi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup nutrisi, dapat karena kelebihan, kekurangan, atau ketidakseimbangan gizi. 

Penyebab malnutrisi umumnya dapat berupa pola makan yang buruk, kondisi kesehatan pencernaan, atau penyakit lainnya.

Gejala yang ditimbulkan berupa kelelahan, pusing, dan penurunan berat badan. Gizi buruk yang tidak ditangani dapat menyebabkan cacat fisik atau mental. 

Pengobatan untuk mengatasi malnutrisi harus mengatasi kondisi yang mendasarinya dan mengganti nutrisi yang hilang. Pengobatan dapat dilakukan dengan dua jenis, yaitu:
1) Pengobatan di rumah: memperbaiki asupan makanan dengan bantuan penasihat gizi atau dokter, meminum suplemen vitamin dan mineral sesuai yang dianjurkan, dan memonitor perkembangan indeks massa tubuh secara teratur.
2) Pengobatan di rumah sakit: umumnya ditangani oleh pihak profesional seperti ahli gizi, ahli gastroenterologi, perawat spesialis nutrisi, dan pekerja sosial. Kemampuan untuk minum dan makan akan diperiksa secara rutin jika berada di rumah sakit. Bagi yang tidak mampu menelan makanan, maka digunakan tabung makanan. 

Terjadinya malnutrisi dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau menimbulkan penyakit lain, yaitu:

1) Kwashiorkor, merupakan kondisi malnutrisi akibat kekurangan asupan protein. Kwashiorkor dapat menyebabkan sel-sel pankreas atropi (menyusut) dan banyak kehilangan retikulum endoplasma, sehingga pembentukan enzim pencernaan terganggu. Gejalanya antara lain: kelelahan, kulit kering dan bersisik, rambut kering atau kusam, perut buncit, hilangnya massa otot, pembengkakan di bawah kulit (edema), perubahan mood, serta susah menambah berat dan tinggi badan. Kwashiorkor dapat dicegah dan ditangani dengan mengonsumsi makanan berprotein tinggi, seperti daging, susu, keju, ikan, telur, kedelai, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

2) Marasmus, kondisi yang disebabkan oleh kekurangan asupan kalori berkepanjangan, baik dari protein maupun karbohidrat. Gejalanya antara lain: tubuh kurus kering dan tulang yang menonjol, terutama tulang iga dan bahu. Selain itu, kulit lengan, paha, dan bokong penderita akan tampak kendur, serta wajahnya terlihat seperti orang tua. Marasmus umumnya dapat ditangani dan dicegah dengan menjalani pola makan sehat bergizi seimbang.

3) Beri-beri, terjadi karena tubuh kekurangan vitamin B1 (thiamine). Penyakit beri-beri terdiri dari 2 jenis, yaitu beri-beri basah dan beri-beri kering. Gejala beri-beri basah antara lain: sering terbangun di malam hari dengan sesak napas, denyut jantung meningkat, sesak napas saat beraktivitas, dan kaki bagian bawah bengkak. Beri-beri basah umumnya dapat mengganggu kinerja jantung dan pembuluh darah. Gejala beri-beri kering antara lain: susah berjalan, kaki dan tangan mati rasa atau kesemutan, fungsi otot kaki bagian bawah menurun, nyeri, kesulitan bicara, muntah, dan nistagmus. Beri-beri kering dapat memengaruhi sistem saraf. Untuk mencegah beri-beri, Anda perlu mengonsumsi makanan kaya vitamin B1, seperti susu, biji-bijian, gandum, jeruk, daging sapi, ragi, kacang-kacangan, beras, dan sereal dari biji-bijian utuh.

4) Skorbut, adalah penyakit malnutrisi akibat tubuh kekurangan vitamin C. Gejala penyakit skorbut atau scurvy antara lain: nyeri otot dan sendi, kelelahan, munculnya titik-titik merah di kulit, perdarahan dan pembengkakan pada gusi maupun gusi bengkak dan sakit, hilangnya nafsu makan, berat badan turun, diare, mual, dan demam. Untuk mencegah terjadinya penyakit ini, pastikan makanan yang dikonsumsi mengandung vitamin C. Beberapa pilihan makanan yang kaya akan vitamin C antara lain cabai, tomat, brokoli, kiwi, stroberi, lemon, jeruk, limau, kubis, paprika, nanas, pepaya, mangga, blewah, kembang kol, dan bayam.

5) Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin. Penyakit ini bisa terjadi akibat kekurangan zat besi. Anemia dapat diatasi dan dicegah dengan cara mengonsumsi suplemen zat besi atau makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging, ikan, hati ayam atau sapi, tahu, tempe, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, beras merah, seafood, dan sayuran berdaun hijau tua. 

8. Diare

Video 3.2 Diare
(Sumber: GutDr – The Gut Doctor)

Diare merupakan gangguan pencernaan yang menyebabkan feses (kotoran yang merupakan hasil akhir dari proses pencernaan) bertekstur encer, dan membuat frekuensi buang air besar lebih sering dari biasanya.

Diare terjadi pada usus halus dan disebabkan infeksi bakteri Escherichia coli, atau terkadang makanan yang terkontaminasi. Penyebab lain dapat berupa diet cairan, intoleran terhadap makanan, stress, cemas, penggunaan obat pencahar, dan efek samping obat-obatan.

Gejala diare adalah sering buang air besar dengan feses yang encer dan nyeri perut. 

Pada kebanyakan kasus, diare dapat sembuh dengan sendirinya, namun beberapa kasus mungkin memerlukan antibiotik. Diare yang parah dapat menyebabkan dehidrasi sehingga membutuhkan cairan infus (cairan intravena).

9. Disentri

Disentri adalah peradangan dan infeksi pada usus yang dapat mengakibatkan diare dengan disertai darah atau lendir. 

Disentri terjadi pada usus besar dan paling sering disebabkan oleh bakteri shigella (Shigella dysenteriae) atau amuba (Entamoeba histolytica) melalui makanan atau air yang terkontaminasi.

Gejala utama adalah diare berdarah, namun terkadang disertai nyeri perut, kram, demam, dan malaise (perasaan tidak nyaman, merasa lelah, lesu, atau sering dikenal dengan istilah tidak enak badan). 

Perawatan medis biasanya segera dibutuhkan untuk mengatasi disentri atau diare berdarah. Perawatan dapat berupa: peningkatan asupan cairan; rehidrasi (mengembalikan cairan tubuh yang hilang); pemberian cairan infus (cairan intravena); dan antibiotik.

10. Hemoroid atau Wasir

Hemoroid atau wasir adalah pembengkakan atau pembesaran pada pembuluh darah di bagian akhir usus besar (rektum) dan anus. Wasir dapat terjadi di segala usia, tetapi lebih sering dialami oleh orang usia 50 tahun atau lebih.

Wasir atau yang juga dikenal dengan ambeien umumnya tidak mengganggu dan tidak menimbulkan keluhan. Namun, wasir juga bisa menimbulkan keluhan berupa rasa tidak nyaman, gatal, serta perdarahan dari anus.

Gambar 3.11 Hemoroid atau wasir atau ambeien (Sumber: alodokter.com)

Gambar 3.12 Hemoroid atau wasir atau ambeien (Sumber: biodigital.com dan alodokter.com)

Terdapat dua jenis wasir, yaitu wasir dalam (internal hemorrhoid) dan wasir luar (external hemorrhoid). Pada wasir internal, pembuluh darah yang membengkak tidak terlihat dari luar. Sedangkan pada wasir eksternal, pembengkakan pembuluh darah tampak dari luar dan terasa lebih nyeri.

Berdasarkan ukuran dan tingkat keparahannya, wasir internal dapat dikelompokkan menjadi:
Derajat satu: pembengkakan kecil muncul di dalam dinding anus dan tidak terlihat di luar anus
Derajat dua: pembengkakan lebih besar yang keluar dari anus saat buang air besar (BAB) dan masuk kembali dengan sendirinya seusai BAB
Derajat tiga: terdapat satu atau beberapa benjolan kecil yang menggantung di anus, tetapi bisa didorong untuk masuk kembali
Derajat empat: terdapat benjolan besar yang menggantung dari anus dan tidak bisa didorong kembali

Penyebab wasir dapat dipicu oleh kebiasaan mengejan terlalu keras saat buang air besar atau duduk terlalu lama, sembelit atau diare yang berkepanjangan, sering mengangkat beban yang terlalu berat, kehamilan atau baru melahirkan, dan obesitas.

Gejala wasir adalah terdapat benjolan di luar anus. Gejala lain yang sering menyertai wasir adalah: ketidaknyamanan terutama saat buang air besar atau ketika duduk, rasa gatal atau sakit di sekitar anus, benjolan keras di sekitar anus yang terasa perih, perdarahan dari anus setelah buang air besar, dan keluarnya lendir setelah BAB.

Pengobatan wasir dapat dilakukan dengan cara:
• Mengonsumsi obat pelancar BAB
• Menerapkan pola makan yang sehat dan menambah asupan serat 
• Menggunakan salep wasir
• Menjalani operasi pengangkatan wasir 

Untuk menghindari terjadinya wasir, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengonsumsi makanan kaya serat, banyak minum air putih, dan rutin berolahraga. Selain itu, hindari kebiasaan yang dapat memicu wasir, seperti duduk terlalu lama, menunda BAB, atau mengejan berlebihan.

11. Konstipasi atau Sembelit

Video 3.3 Konstipasi
(Sumber: GutDr – The Gut Doctor)

Konstipasi atau Sembelit merupakan salah satu gangguan pada sistem pencernaan saat seseorang buang air besar kurang dari 3 kali seminggu atau kesulitan buang air besar. Pada penderita sembelit, feses menjadi kering dan keras sehingga sulit dikeluarkan dari anus. Hal ini mengakibatkan frekuensi BAB menjadi kurang dari 3 kali dalam seminggu.

Terjadinya sembelit dapat disebabkan oleh penyumbatan usus besar atau rektum (ujung usus besar), atau gangguan pada saraf di sekitar usus besar dan rektum. Selain itu, penyebab lainnya dapat berupa kekurangan cairan, pola makan rendah serat, kurangnya aktivitas fisik, efek samping pengobatan, dan kebiasaan buruk yang selalu menunda buang air besar.

Gejala utama sembelit berupa sulitnya mengeluarkan feses, frekuensi buang air besar yang lebih jarang dari biasanya, dan sakit saat mengeluarkan feses. Sembelit dapat dikatakan kronis jika gejalanya telah berlangsung selama 3 bulan.

Penanganan sembelit dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup, misalnya dengan memperbaiki pola makan dan berolahraga rutin. Namun, bila upaya tersebut tidak dapat mengatasi sembelit, dokter dapat menyarankan penggunaan obat atau tindakan lain.

B. Teknologi yang Berhubungan dengan Gangguan pada Sistem Pencernaan Manusia

Pada Sistem Pencernaan Manusia, terdapat beberapa kelainan atau gangguan yang dapat diperiksa atau diatasi dengan bantuan teknologi. Beberapa teknologi tersebut antara lain: endoskop, feeding tube, dan rectal tube.

1. Endoskop

Gambar 3.13 Endoskop
(Sumber: infinita-medical.eu)

Endoskop adalah alat yang digunakan untuk memeriksa bagian atau organ dalam tubuh melalui celah atau bagian tubuh yang disayat.

Endoskop merupakan alat berbentuk selang yang dilengkapi dengan kamera dan senter pada bagian ujungnya. Kamera pada endoskop tersambung ke monitor yang akan menunjukkan gambar atau yang ditangkap oleh kamera tersebut di dalam tubuh. Selain kamera dan senter, endoskop juga bisa dilengkapi dengan peralatan bedah pada bagian ujungnya guna melakukan tindakan medis tertentu selain pemeriksaan medis.

Gambar 3.14 Simulasi endoskopi untuk melakukan pemeriksaan dan tindakan medis pada lambung yang disebut dengan gastroskopi (Sumber: biodigital.com dan alodokter.com)

Prosedur medis yang dilakukan dengan menggunakan endoskop disebut endoskopi. Sebelum melakukan endoskopi, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan berbagai tes penunjang, seperti pemeriksaan darah dan foto rontgen (disebut juga pemeriksaan x-ray, merupakan tindakan menggunakan radiasi untuk mengambil gambar bagian dalam dari tubuh seseorang).

Selain itu, dokter akan memberikan penjelasan mengenai bagaimana proses endoskopi dilakukan dan hal apa saja yang perlu pasien persiapkan sebelum menjalani endoskopi, misalnya apakah pasien perlu berpuasa atau menginap di rumah sakit terlebih dulu. Umumnya, endoskopi hanya membutuhkan waktu sekitar 15–60 menit. Endoskopi juga dapat dilakukan pada pasien dalam kondisi sadar, namun sebagian jenis endoskopi membutuhkan obat bius, baik bius lokal maupun bius total.

Beberapa kelainan atau gangguan pada sistem pencernaan manusia dapat diperiksa atau diatasi dengan endoskop. Pada Sistem Pencernaan, umumnya endoskop dimasukkan melalui mulut untuk melihat saluran cerna bagian atas (rongga mulut, esofagus, lambung, dan usus halus) atau melalui anus untuk melihat saluran cerna bagian bawah (usus besar-anus).

Berikut merupakan beberapa pemeriksaan dengan menggunakan endoskop berdasarkan organ yang diamati:

1) Gastroskopi atau Esophagogastroduodenoscopy (ESD), untuk memantau saluran kerongkongan, lambung, dan usus 12 jari (duodenum).
2) Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP), untuk mendiagnosis gangguan pada pankreas, saluran empedu, dan kandung empedu. ERCP merupakan kombinasi endoskop dan rontgen (x-ray).
3) Kolonoskopi, untuk mengamati kondisi usus besar yang sering kali dilakukan guna mendiagnosis kanker usus besar.
4) Proktoskopi, untuk mengamati dan mengevaluasi perdarahan pada rektum, yaitu bagian akhir usus sebelum anus.
5) Sigmoidoskopi, untuk memeriksa rongga belokan berbentuk S antara rektum dengan kolon yang menurun (kolon sigmoid).
6) Anoskopi, untuk memeriksa dan mengetahui gangguan pada rektum dan anus.

2. Feeding tube atau Nasogastric tube (NGT)

Gambar 3.15 Feeding tube
(Sumber: lamed.healthcare)

Feeding tube adalah pipa makanan atau sering disebut dengan istilah sonde. Feeding tube merupakan suatu alat bantu medis berupa selang plastik lunak yang dipasang melalui hidung atau mulut menuju lambung.

Feeding tube digunakan untuk mengatasi masalah pemberian nutrisi atau obat pada pasien yang mengalami kesulitan menelan ataupun menolak untuk makan, dan pasien yang sedang dalam keadaan tidak sadar atau koma. Penempatan pipa alat bantu pemberian makanan ini dapat dilakukan secara sementara (pada kondisi akut) ataupun permanen (pada kondisi ketidakmampuan kronis). Selain itu, feeding tube juga dapat digunakan untuk mengosongkan lambung.

Gambar 3.16 Feeding tube yang dimasukkan melalui hidung (Sumber: shutterstock.com)

Gambar 3.17 Feeding tube yang dimasukkan melalui lambung (Sumber: shutterstock)

3. Rectal tube

Rectal tube merupakan suatu alat yang dimasukkan melalui anus, digunakan untuk membantu membersihkan rektum, dan mengeluarkan udara dari usus sehingga dapat mengurangi ketegangan perut, serta membantu mengeluarkan feses cair.

Gambar 3.18 Rectal tube
(Sumber: smd-medical.com)

Setelah selesai mengerjakan LTPD pada Kegiatan 3.1 di atas, peserta didik/siswa melakukan diskusi kelas melalui presentasi kelompok di depan kelas, dan kelompok lain dapat menanggapi presentasi kelompok yang tampil dan saling berdiskusi.

Rangkuman Pertemuan 4

  • Gangguan sistem pencernaan adalah masalah yang terjadi pada organ yang termasuk pada saluran atau kelenjar pencernaan. 
  • Beberapa gangguan pada sistem pencernaan manusia antara lain: gastritis atau magh, ulkus peptikum atau tukak lambung, gastroesophageal reflux disease (GERD) atau asam lambung, apendisitis atau radang usus buntu, stomatitis atau sariawan, malnutrisi atau malagizi, diare, disentri, hemoroid atau wasir, dan konstipasi atau sembelit.
  • Beberapa teknologi yang dapat digunakan untuk membantu memeriksa atau mengatasi gangguan sistem pencernaan manusia, antara lain: endoskop, feeding tube, dan rectal tube.
  • Endoskop adalah alat yang digunakan untuk memeriksa bagian atau organ dalam tubuh melalui celah atau bagian tubuh yang disayat.
  • Feeding tube merupakan suatu alat bantu medis berupa selang plastik lunak yang dipasang melalui hidung atau mulut menuju lambung.
  • Rectal tube merupakan suatu alat berbentuk pipa yang dimasukkan melalui anus, digunakan untuk membantu membersihkan rektum.

Menyatukan hasil diskusi yang telah dilakukan, serta menyampaikan dan membahas hal-hal atau pembahasan yang belum tepat. Membuat kesimpulan terhadap materi yang dipelajari. Kemudian dilanjutkan dengan peserta didik/siswa menjawab soal latihan secara mandiri/perorangan di bawah ini.

Penginformasian dan pemberian penghargaan atau pujian kepada kelompok yang termasuk ke dalam kategori super team, great team, dan good team